Menjahit Rindu



Foto setelah wisuda


Laysal firoq lil firoq wa lakinnal firoq lisy syauq
Kalian punya hal yang spesial dalam hidup? Barangkali, kalian adalah hal yang spesial bagiku. Lebih khusus hanya beberapa orang dari kalian. Lebih menyudut lagi, kamu. Iya kamu. Kamu yang ada di antara banyak orang dari kalian, adalah hal paling spesial dan istimewa.
Ah, tidak. Aku tidak boleh egois. Semuanya terasa spesial dan istimewa, malah kadar spesial dan istimewanya semakin bertambah dan bertambah. Betul, kadarnya naik secara otomatis ketika rasa syukur akan keistimewaan kalian hadir dalam hati.
Barangkali kita semua tidak dipertemukan dalam waktu yang sama. Boleh jadi, kamu adalah salah satu yang telah kutemui lebih lama dari yang lainnya—di luar teman-teman satu kampung yang sudah barang tentu telah kutemui bahkan sejak aku belum paham kata cinta dan kehilangan. Di antara kita ada yang sudah bertemu sejak enam tahun lalu, ada pula yang baru bertemu tiga tahun setelahnya.
Sebuah lembaga pesantren jadi saksi pertemuan kita. Menjadi wadah bersatunya kita dalam ikatan—bisa disebut—keluarga (di luar hubungan darah). Canda tawa yang tercipta, sedih, marah, kesal, bahagia, ceria, semua tersusun rapi dalam ingatan dan tersimpan rapat-rapat dalam laci kenangan.

Ketika tak ada gengsi dalam ekspresi

Ini spesial dan sangat istimewa. Enam tahun atau tiga tahun tentu terlalu sebentar untuk kebersamaan yang tercipta. Namun, waktu yang sebentar itulah yang menjadikan ikatan kita kuat dan tidak mudah lepas—dan jangan sampai lepas. Upacara sakral bernama perpisahan memang menyebalkan, berani-beraninya dia memisahkan kita. Ah, kita tidak berpisah sebenarnya. Bukankah seorang Ustadz ketika berdakwah dalam acara ‘perpisahan’ menyampaikan, Laysal firoq lil firoq wa lakinnal firoq lisy syauq. Perpisahan itu bukanlah untuk berpisah, tetapi untuk memancing kerinduan.
Benar sekali. Ustadz itu memang sangat benar. Belum lama kita berpisah, rasa rindu menyelusup mengkontaminasi isi hati. Saat itu terjadi, barangkali senjata andalan kita adalah doa. Doa-doa terbaik melayang mengangkasa, semoga sukses dan berhasil menjalani kehidupan yang sebenarnya.
Sesekali kita bertemu, meski sulit untuk bertatap muka secara full tim. Tidak mengapa, kita paham bahwa kita memiliki kesibukan yang berbeda. Tetapi, kita pun punya agenda ‘wajib’ setiap ramadhan, buka bersama. Setidaknya rindu bisa terbalaskan. Ah, membicarakannya semakin menambah kerinduan.
Ada yang istimewa lagi. Ya, beberapa hari ke belakang salah satu dari kita melepas masa lajang. Alhamdulillah, kabar bahagia untuk semua. Karena sudah menganggap kita adalah keluarga, maka kita pun datang dan menyaksikan upacara ‘pelepasan status jomblo’ yang khidmat itu bersama-sama dengan tiba di lokasi lebih awal untuk menjadi tim hora-hore ketika Pak Penghulu bertanya, “Sah?”

Foto di pernikahan Hani Hanifah (keluarga Baraya) & Ilham Maulana, Lc.

Menjahit rindu, judul tulisan ini yang berbentuk entah prosa, memoar, atau apa pun kalian mendefinisikannya. Ya, sebagaimana jahitan yang benangnya sewaktu-waktu bisa lepas, begitulah kita. Setiap kali bertemu untuk menutupi kangen, kita memecahkan celengan rindu, membayar tuntas kerinduan, alangkah bodohnya kita. Sial! Kerinduan itu tidak hilang. Sebagaimana benang yang putus, rindu itu menyerang semakin brutal. Seperti saat ini, siang yang cerah menuju sore, tepat satu hari sebelum hari kelahiranku, aku menuliskannya untuk sedikit meredakan rindu yang bergejolak.
Apa kalian juga merasakannya? Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Karena Allah, aku mencintai kalian.
Baraya IIK 24.
Bumi Corenda
Ketika merdunya azan ashar berkumandang

Komentar