Tidak Selalu Buruk

Suatu hari kaumengajakku ikut, entah ke mana, untuk apa. Nyatanya kau tahu satu hal tentangku; aku paling tidak suka ikut acara-acara perpeloncoan(?) semacam ospek. Begitulah opiniku, kalian bebas menentang atau tidak sependapat..

Diam-diam kau mendaftarkanku, menuntutku harus ikut. Sial, kau benar-benar gila. Membawaku ke dalam jurang nestapa, batinku. Ini bukan kabar baik, buruk. Bahkan lebih buruk, aku harus mengikuti acara yang paling tidak kusukai.

Sejak awal, image buruk sudah kupampang besar-besar. Jelas itu jadi semacam sugesti buruk yang membuatku tidak bisa menikmati acara--meski sebagiannya jujur terasa menyenangkan. Dasar hatiku yang egois, sugesti itu telah mengkontaminasi, menjadikan hal-hal menyenangkan terasa menyebalkan dan membosankan.

Astaga, ini kabar buruk dan tidak boleh dibiarkan terus-menerus. Kegiatan ini masih tersisa tiga hari, kau terlihat menikmati, enjoy dan tidak memedulikanku. Ini serius, sesegera mungkin harus kuubah prasangka dan sugesti buruk ini. Bagaimana pun, aku harus menikmati kegiatan ini. Disukai atau tidak, aku tak boleh terus-menerus dilanda sengsara karena prasangka sendiri.

Hari berikutnya, kuubah sugesti, membuang sejauh mungkin segala prasangka jelek. Mencoba memulai diri untuk menikmati hari.

Kemudian kusadari bahwa begitu dahsyat kekuatan sugesti. Saat kusugestikan menyenangkan, prasangka kupasang seindah mungkin, menata hati untuk siap dan ikhlas menerima, suasana perlahan namun pasti mulai berubah. Kekecewaan, kesebalan, ke-tidaksuka-an lambat laun menjauh terganti kenyamanan.

Ternyata kau benar, tidak selalu apa yang kita pikir buruk itu buruk. Malah sebaliknya, bisa jadi baik bahkan sangat baik. Pun sebaliknya.

Maka kemudian mari tanyakan pada diri masing-masing, kau boleh ikut bertanya, prasangka dan sugesti apa yang sudah kita pasang untuk menyambut berbagai peristiwa dalam hidup? Apakah baik? Sangat baik? Atau justru sebaliknya? Mari perbaiki dari sekarang.

Garut, September 2019

Komentar