Cerpen: AHMAD INGIN JADI PELAJAR


MATAHARI masih bersujud kepada-Nya. Namun, cahayanya sudah terasa, melukis lembayung pagi yang memesona. Aku sudah siap dengan seragam putih dan celana berwarna silver tua. Tas hitam yang sudah menemaniku dua tahun sekolah, kugendongkan di pundak. Aku mencium tangan bapak dan mamah, meminta doa pada mereka, lalu meminta izin berangkat sekolah. Sengaja aku berangkat pagi-pagi sekali. Selain agar jalannya santai dan tidak dikejar waktu, aku juga bisa sambil me-muraja`ah hafalan Qur’an-ku.
            Bismillah tawakkaltu `alallah wa laa haula wa laa quwwata illa billah,” lirihku keluar dari rumah.
            Dari rumah, aku berjalan beberapa meter ke arah barat memasuki area perkebunan yang menanjak. Inilah jalan yang biasa kulalui agar bisa sampai ke sekolah. Tatapanku menunduk, meneliti jalanan berbatu yang cukup terjal. Sesekali aku tersandung karena kurang hati-hati. Sebenarnya ada jalan lain yang bisa ditempuh lebih nyaman—atau mungkin lebih layak—untuk sampai ke sekolah. Namun, harus ditempuh dengan naik kendaraan sampai dua kali.
            Matahari mulai naik. Sinarnya menghangatkan tubuhku. Sesekali aku menatap lurus ke depan. Kabut pekat yang menghiasi sepanjang jalan, mulai terusir sinar sang mentari. Langkah kaki sedikit kupercepat. Sejurus kemudian, aku sampai di kampung Patrol. Di sana, Rahmat sudah menunggu.
            Assalamu`alaikum, Akhyar!” Rahmat mendahuluiku mengucapkan salam. Ia tertawa kecil karena telah berhasil mendahuluiku mengucapkan salam. Begitulah, setiap kali berjumpa, kami selalu berlomba untuk mengucapkan salam lebih dulu.
            Wa`alaikumussalaam, Rahmat Hidayat.” Jawabku akhirnya.
            Dari Patrol, kami berjalan ke selatan kemudian memasuki area perkebunan lagi. Jalanan yang cukup becek dan licin menyapa, mengharuskan kami berjalan ekstra hati-hati. Biasanya kami selalu berebut berjalan di belakang, karena kalau berjalan di depan, dapat dipastikan sepatu akan basah dan kotor. Kali ini aku yang berjalan di depan. Kedua tanganku pun memegang ujung celana panjang yang ditaikkan sampai lutut agar tidak terlalu basah karena embun.
            Sudah menjadi hal biasa bagi kami melewati jalanan becek dan licin ini. Setiap hujan turun di malam hari atau subuh, maka jalanan akan becek dan dedaunan sepanjang jalan akan basah. Walau begitu, aku dan Rahmat tak pernah mengeluh. Kami tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk sekolah.
            Alhamdulillahi rabbil `alamiin….” Lirihku ketika sampai di gerbang madrasah.
            Sebelum masuk kelas, aku dan Rahmat harus membersihkan sepatu dengan lap kecil yang sengaja dibawa dari rumah. Setelah selesai, aku dan Rahmat berpisah karena kami berbeda kelas.
            Di kelas, aku menyalami semua teman kemudian duduk di bangku paling depan.
            “Akhyar, nanti pulang sekolah kita mau tanding futsal lawan kelas sebelah. Kamu ikut ya?” ujar Ajip, salah satu teman sekelasku.
            “Oh ya? Tapi maaf  sekali, teman … sepertinya aku nggak bisa ikut.”
            “Kenapa?”
            “Ada kewajiban lain yang harus kupenuhi,” jawabku.
            “Kewajiban apa? Apa kamu masih mengajar anak kecil itu? Kurasa itu bukan kewajibanmu.” Tanya Ajip agak ketus.
            Aku diam.
            “Sudahlah, kamu nggak usah capek-capek ngajarin anak itu. Dari dulu kamu mengajar dia, apa ada yang memberimu upah?”
            Itu perkataan menyakitkan yang diakhiri dengan pertanyaan yang tak perlu dijawab. Ingin sekali aku marah, namun kutahan.
            Bukan tanpa alasan aku menolak ikut futsal sama mereka. Sebenarnya, ada seorang anak berumur sepuluh tahun yang selalu menungguku di gerbang setiap pulang sekolah. Anak itu tidak sekolah seperti anak-anak yang lain. Orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Setiap hari, aku dan Rahmat akan mengajarinya membaca, menulis dan memberinya ilmu-ilmu agama. Aku dan Rahmat menciptakan dunia baru untuk anak itu, dunia pelajar.
            Kring kring kring!
            Bel berbunyi. Semua siswa-siswi masuk kelas. Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Aliyah Baitul Muttaqin itu pun berlangsung.
***
            “Jangan lupa, nanti pulang sekolah kita punya tugas mengamalkan ilmu kita!!” kataku pada Rahmat saat shalat dzuhur berjama`ah.
            “Iya, Insya Allah.”
            Saat bel pulang berbunyi, semua murid meninggalkan kelas. Rahmat menungguku di depan perpustkaan. Kami pun berjalan menuju gerbang. Di sana, seorang anak laki-laki berambut kriting dan berkulit agak gelap sudah menunggu. Kami menghampirinya, wajah anak itu terlihat sumringah. Ia pun begitu antusias mencium tanganku dan Rahmat.
            “Ayo, Kak, aku sudah nggak sabar mau belajar!” katanya dengan semangat.
            Semangat belajar anak ini begitu luar biasa. Terkadang aku berfikir, kenapa anak yang tidak sekolah sama sekali begitu bersemangat dan sangat haus akan ilmu, tapi yang sudah diberi kesempetan sekolah justru berleha-leha dan cuek, bahkan tidak peduli pada ilmu.
            “Ayo, Ahmad!” kataku dan Rahmat hampir bersamaan.
            Anak kecil bernama Ahmad itu membawa kami menuju rumahnya. Di sanalah biasanya dia belajar, mendapatkan ilmu dari kami.
            “Aku sudah membaca buku yang kakak berikan. Dan, tadi pagi aku menghafal al-Qur`an. Sekarang aku sudah hafal surat Al-Fajr seluruhnya.” Tutur Ahmad sambil terus berjalan.
            Alhamdulillah… kamu itu anak yang cerdas, Ahmad, insya Allah.”
            Sesampainya di rumah panggung milik orang tua Ahmad, kami langsung memulai kegiatan kami. Kali ini giliran Rahmat yang memberikan ilmunya. Ahmad begitu antusias mencatat semua ilmu yang diberikan Rahmat. Masya Allah, aku jadi terharu melihat semangatnya dalam belajar. Aku jadi ingat saat pertama kali aku dan Rahmat bertemu dengannya. Kurang lebih lima bulan yang lalu.
            Saat itu, aku dan Rahmat hendak pulang. Di gerbang, aku melihat anak kecil memakai kaus yang sudah agak kumal, sedang duduk menatap para siswa-siswi yang keluar dari dalam lingkungan madrasah. Hampir setiap hari kami mendapati anak itu sedang duduk dan memerhatikan para murid. Hingga suatu hari, aku dan Rahmat menghampirinya.
            Assalamu`alaikum, Dek…”
            Waa … wa`alaikumsalam,” jawab anak itu gelagapan karena kaget.
            “Kamu sedang apa, Dek? Boleh kami tahu siapa namumu?”
            “Maafkan saya, Kak. Maafkan saya kalau kakak merasa tidak enak dengan keberadaan saya di sini. Sekali lagi maafkan saya, Kak. Nama saya Ahmad,” kata anak itu. Agaknya dia ketakutan.
            “Oh, Ahmad. Tenanglah, Dek. Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya penasaran kenapa setiap hari kamu duduk sendirian di sini. Apa kamu sedang menunggu kakak atau saudaramu yang sekolah di sini?” tanyaku berusaha membuatnya tenang.
            “Aku tidak menunggu siapa-siapa, kak.” Katanya.
“Lalu, kenapa kamu selalu duduk di sini sendirian, Dek?”
Lalu ia menunduk. Ia pun berucap. “Sebenarnya saya ingin jadi pelajar seperti kalian. Namun ibu tidak sanggup menyekolahkan saya karena masalah ekonomi. Jadi, setiap hari aku selalu duduk di sini berharap di antara kalian ada yang berbincang tentang pelajaran yang sudah disampaikan oleh guru. Dan aku selalu ingin mendengarnya.”
            Masya Allah, aku dan Rahmat saling tatap.
            Ahmad melanjutkan ucapannya, “Aku ingin sekolah. Ingin belajar bersama teman, duduk di bangku dengan rapi, di dalam ruangan kelas. Ingin sekali aku merasakan indahnya dunia pelajar,” anak itu pun menangis lalu pergi.
            Setelah hari itu, hati kecilku terketuk untuk membantu Ahmad si Malaikat Kecil. Aku ditemani Rahmat menunggunya di gerbang sekolah. Kami sudah sepakat untuk mengamalkan ilmu yang kami miliki kepadanya. Kami ingin membuat dunia pelajar untuknya. Ya, walaupun tidak mungkin bagi kami membawa anak itu ke dalam dunia persekolahan, tapi kami akan berusaha menciptakan dunia pelajar untuk Si Malaikat Kecil. Kami akan membuat dia merasa bahwa dirinya adalah pelajar.  Namun setelah lama menunggu, anak itu tak muncul juga. Saat itu, aku tidak tahu di mana ia tinggal. Bahkan namanya saja aku dan Rahmat belum tahu.
            Kami pun mencoba bertanya pada Pak Satpam tentang Ahmad. Pak Satpam mengetahuinya, lalu menunjukkan arah menuju rumah Ahmad yang tak jauh dari madrasah.
            Syukron, Pak. Kalau begitu, kami permisi.” Kataku pada Pak Satpam.
            Pak Satpam tersenyum. Aku dan Rahmat berjalan ke arah yang ditunjukkan Pak Satpam. Saat belok kanan, kami melihat sebuah warung. Di depan warung itu, tumbuh sebuah pohon mangga yang berbuah lebat. Aku dan Rahmat berjalan ke arah warung itu kemudian masuk gang kecil ke belakang warung, tampaklah sebuah rumah panggung yang sudah tua.
            Setelah mengucapkan salam, pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita paru baya berdiri di pintu. Ia menjawab salam lalu menyunggingkan seulas senyum.
            “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu ramah sekali.
            Aku dan Rahmat menceritakan maksud kedatangan kami. Ternyata ia adalah ibunya Ahmad. Dengan sangat ramah, ia mempersilakan kami masuk. Kulihat Rahmat sedang membaca sebuah koran yang sudah kumal, sepertinya koran bekas. Ibunya menghampirinya lalu berkata pelan kepadanya.
            Ahmad terlihat sumringah, lalu melihat ke arah kami. Sejurus kemudian ia memeluk kami. “Terima kasih, Kak! Semoga Allah membalas kebaikan kakak,” kata Ahmad sungguh-sungguh.
            Aku terharu melihat Ahmad. Tak terasa mataku sembab. Hari itu juga, aku dan Rahmat mulai mengajari Ahmad. Aku memberinya sebuah buku dan pensil untuk dia belajar menulis. Si Malaikat Kecil itu begitu bersemangat untuk belajar. Saat ashar tiba, aku dan Rahmat pamit. Setelah shalat, kami kembali menyusuri hutan, perkebunan dan bukit untuk sampai di rumah. Senja terus merambat, dan langit mulai kelabu.
***
            Kini Ahmad sudah bisa menulis dan pandai membaca. Bahkan, ia sudah hafal beberapa surat juz `ama. Lima bulan sudah aku dan Rahmat membawa Ahmad ke dalam dunia pelajar yang kami ciptakan. Satu alasan yang membuatku tidak berhenti mentransfer ilmu yang kumiliki pada Ahmad, spiritual saving. Tabungan amal. Itulah yang membuatku tak pernah bosan mengajari Ahmad, walaupun kadang rasa lelah menyergap.
            “Kini giliranmu, Akhyar!” suara khas Rahmat membuyarkan lamunanku.
            Ahmad tertawa melihat ekspesi kagetku. Aku tersenyum padanya, lalu menghampirinya. “Ayo, sekarang kamu belajar bareng kakak.”
            “Siap, bos!” katanya lantang dan tegas.
            Hari ini aku tidak memberikan materi formal seperti biasanya, tapi aku menceritakan hal-hal menarik tentang Said Nursi. Tokoh yang sangat cinta ilmu. Aku memulainya dengan menuturkan sekilas biografi Said Nursi. Kemudian menceritakan masa kecilnya.
            “Saat usianya masih muda, Said Nursi sudah mempunyai ilmu yang luas. Hafalannya sangat kuat. Seorang ulama telah mengujinya dengan menyuruh Said Nursi membaca satu halaman dari sebuah kitab yang berat dua kali, lalu menyetorkan hafalannya. Said Nursi membacanya hanya satu kali, kemudian menyetorkan hafalannya pada ulama yang mengujinya dengan benar tanpa ada satu huruf pun yang tertinggal.” Tuturku membuat Ahmad terbawa suasana.
            “Lalu, apalagi kehebatan Said Nursi, Kak?” Ahmad begitu antusias.
            “Ia sanggup menguasai ilmu yang semestinya dipelajari selama lima belas tahun, hanya dalam waktu tiga bulan saja….” Aku terus bercerita kisah Said Nursi, dan Ahmad terlihat sangat menikmatinya.
            Aku juga menceritakan pada Ahmad, bahwa kelak Said Nursi akan diberi julukan Badiuzzaman, keajaiban pada zamannya, yang kemudian dimasukkan pada namanya menjadi, Badiuzzaman Said Nursi.
            Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Azan ashar mengalun merdu di setiap menara masjid. Aku, Rahmat dan Ahmad hendak beribadah shalat ashar di Masjid madrasah. Saat berjalan menuju masjid, tiba-tiba seorang pemuda menghadang jalan kami. Pemuda itu seperti tidak asing di mataku.
            “Heh, kalian ini nggak ada kapoknya ya… dulu gue pernah bilang pada kalian, nggak usah sok pahlawan. Tiga bulan gue keluar kota, gue kira kalian nuruti apa yang gue bilang dulu. Sok-sokan ngajarin Ahmad segala. Dia nggak perlu belajar,” kata pemuda itu mengancam. Aku ingat, dia adalah pemuda yang dulu pernah melarang aku dan Rahmat mengajari Ahmad.
“Pokoknya kalau gue lihat kalian masih ngajarin Ahmad, jangan harap kalian bisa hidup. Camkan itu!!” kata pemuda itu dengan suara keras.
            “Eh, abang apa-apaan sih? Apa urusan abang sampai melarang-larang segala?” Ahmad menyela.
            “Halaah, kamu anak kecil nggak usah ikut ngomong. Diam saja,” Kata pemuda itu sambil mendorong tubuh Ahmad sampai jatuh.
            “Maafkan kami jika kami membuat abang tidak enak, tapi jangan main kasar sama anak kecil. Maaf, kami permisi. Kami mau shalat.” Rahmat berbicara, lalu kami bertiga meninggalkan pemuda itu.
***
            Aku benar-benar nggak mengerti ada apa sebenarnya sampai pemuda urakan itu melarang-larang kami. Memang benar, dulu sekitar dua bulan setelah kami mengajari Ahmad, dia pernah melarang-larang dan mengancam kami agar kami tidak mengajari ilmu pada Ahmad. Tapi kami tak menghiraukannya. Dan hari ini, dia kembali mengancam kami tanpa menyebutkan alasan yang jelas.
            Keesokan harinya, tanpa ragu-ragu, seperti biasa aku dan Rahmat pergi ke rumah Ahmad untuk memberikan ilmu padanya. Kami tidak melihat pemuda itu. Aku bersyukur, lalu memulai kegiatan kami seperti biasa.
            Ahmad sangat fokus memerhatikan setiap ilmu yang diberikan padanya. Tak jarang juga ia bertanya. Lalu, aku dan Rahmat akan menjawabnya.
            Setelah pelajaran dirasa cukup, azan ashar belum berkumandang. Aku dan Rahmat juga Ahmad tidak beranjak. Tapi kami mengobrol sejenak.
            “Ahmad, kakak harap, apa yang selama ini kakak dan Kak Rahmat berikan, kamu mau mengamalkannya, ya?” ujarku dengan suara lirih. “Zaman sekarang, tidak sedikit pelajar yang memiliki ilmu tinggi dan luas, namun ilmu mereka itu hanya sebatas pengetahuan saja, mereka enggan mengamalkannya. Bukan hanya mereka, kakak secara pribadi juga kadang begitu. Misalnya kakak tahu ilmu tentang adab-adaban bersin, tapi setiap kali bersin, kakak selalu lupa tidak mengamalkan ilmu kakak. Dan kakak nggak mau itu terjadi pada kamu, Ahmad. Kakak mau ilmu yang kamu miliki menjadi `ilmin yuntfa u bihi. Ilmu manfaat, yakni amalan yang pahalanya terus mengalir sampai nanti, walaupun kita sudah meninggal dunia.”
            “Insya Allah, Kak. Ahmad akan berusaha untuk mengamalkan apa yang telah Kak Akhyar dan Kak Rahmat berikan pada Ahmad. Ahmad sangat berterima kasih pada kalian, karena sudah mau dan sudi mengajari Ahmad, walaupun terkadang suka diancam-ancam sama Bang Borak, pemuda urakan itu.”
            Tiba-tiba ibunya Ahmad muncul, lalu ikut duduk. Aku tersenyum padanya dan ia membalas senyumanku.
            “Nak Akhyar dan Nak Rahmat, entah harus bagaimana ibu membalas kebaikan kalian. Ibu sangat berterima kasih karena kalian selama ini telah memberikan ilmu pada Ahmad dan menciptakan sekolah yang berbeda dari sekolah-sekolah yang lain bagi Ahmad. Karena kalian, kini Ahmad jadi pandai membaca dan mengaji, kini ia tidak terus menangis ingin sekolah. Sekali lagi, terima kasih, semoga Allah mengganjar kalian dengan pahala yang tiada hentinya. Aamien,”
            Aamien, Ya Mujib!” lirihku dan Rahmat bersamaan.
            “Ini sudah jadi kewajiban kami, Bu… melihat Ahmad bahagia, sudah cukup bagi kami.”
            Kumandang ashar terdengar di seantero kampong. Kami pun pamit untuk sholat lalu pulang. Saat lewat, Bang Borak kembali menghadang dan mengancam. Ahmad dan Ibunya bilang, bahwa Bang Borak bukan siapa-siapanya mereka. Itu yang membuat kami selalu bingung atas apa yang dilakukannya. Demi menghindari perkelahian, aku dan Rahmat selalu mengalah dan tak pernah menanggapinya.
            Hari berikutnya aku dan Rahmat mendapat kabar yang membuat kami terkejut. Ibu pemilik warung dekat rumah Ahmad memberikan sepucuk surat yang katanya dari Ahmad. Ibu itu mengatakan bahwa Ahmad pergi bersama ibunya pagi-pagi sekali dan menitipkan surat untukku dan Rahmat.
            Aku dan Rahmat pergi ke Masjid madrasah. Lalu membaca isi surat itu.
            Bismillahirrahmaanirrahim.
            Teruntuk manusia yang sangat baik hatinya, Kak Akhyar dan Kak Rahmat.
            Sebelumnya, Ahmad minta maaf karena Ahmad tidak sempat pamit.
Kak, Ahmad mau berterima kasih untuk yang kesekian kalinya. Maaf karena Ahmad tidak bisa membalas dengan apa-apa. Oh ya, Ahmad mau mengabarkan kabar gembira. Tadi malam Bang Borak ke rumah menemui ibu. Katanya, di kota ada yang membutuhkan asisten rumah tangga. Ia menawarkan pekerjaan itu pada ibu dan ibu menerimanya. Kemudian, Bang Borak juga akan mewujudkan impian Ahmad. Kini Ahmad akan menjadi pelajar yang sesungguhnya. Benar-benar jadi pelajar yang memakai seragam sekolah. Bang Borak bilang, dia akan menyekolahkan Ahmad di kota. Untuk hal ini, awalnya ibu menolak. Namun aku terus memaksa hingga akhirnya ibu setuju.
Ahmad juga ingin bercerita tentang Bang Borak yang selalu mengancam dan melarang kalian mengajari Ahmad. Begini, sebenarnya Bang Borak punya sepupu yang sekelas dengan Kak Rahmat dan merasa iri juga sakit hati oleh Kak Rahmat. Katanya, setiap ada sesuatu apa pun di kelas, ia selalu dinomordua-kan, sedangkan Kak Rahmat selalu nomor satukan. Setiap ada masalah di kelas, ia selalu berpendapat namun tak pernah didengar. Tapi pendapat Kak Rahmat selalu mendapat banyak persetujuan. Ia iri karena Kak Rahmat selalu dipuji-puji guru dan teman-teman dengan alasan, Kak Rahmat setiap hari mengajar seorang anak kecil yang tidak mampu. Makanya, ia meminta Bang Borak untuk melarang kalian mengajariku.
            Ia melakukan itu karena ia saying pada sepupunya. Sepertinya, Bang Borak orang yang baik.
            Terakhir, semoga Kak Akhyar dan Kak Rahmat selalu ada dalam rahmat Allah. Terima kasih karena telah membuat dunia pelajar untuk Ahmad, meskipun berbeda tapi Ahmad tetap nyaman belajar dari kalian. Karena doa-doa kalian-lah, kini Ahmad akan menjadi pelajar yang sesungguhnya.
            Ahmad
            Aku terharu. Surat itu ditulis langsung oleh tangan Ahmad. Meskipun kurang rapi, tapi aku melihat tulisan itu tetap indah. Kini kami tahu alasan Bang Borak selalu melarang-larang kami. Namun, ada sesuatu yang membuatku khawatir. Tentang rencana Bang Borak menyekolahkan Ahmad. Apakah itu benar? Atau hanya sekadar rayuan agar Ahmad tinggal di kota dengan ibunya, lalu aku dan Rahmat tidak bisa mengajarinya lagi?
            Astagfirullohal`adzim. Kenapa aku jadi su`udzan? Ah, entahlah. Yang jelas, aku berharap Ahmad baik-baik saja dan mimpinya menjadi pelajar sesungguhnya terwujud. Amien.”
Garut, Agustus 2016


Cerpen karya Rizqi Khoerun Nashir

Komentar