PROLOG NOVEL TERBARU
Seperti
musuh yang menyerang, kegelisahan kian merajai hati. Gadis berkerudung panjang
itu menatap dalam pada kertas yang telah diisi tulisan tangannya. Kertas itu
tergeletak di atas meja belajar dekat jendela. Setitik embun jatuh di sudut
mata gadis itu. Matanya, hati dan seluruh anggota tubuhnya sayu seperti memikul
beban yang amat berat. Lagi-lagi ia
menyeka air matanya dengan tangannya. Tak ada yang dengan rela hati mengahapus
air kesedihan itu di pipinya. Kali ini, bulir-bulir jernih itu jatuh
menciptakan beberapa titik basah pada kertas.
Malam
yang senyap, pekat dan kelam seperti kondisi hatiku saat ini…
Duhai
Dzat Pembolak-balik Hati, benarkah itu? betapa bodohnya diri ini. Selama ini
aku terjatuh pada lubang kemaksiatan. Sudah terlalu dalam aku terperosok ke
dalamnya. Tak pernah kusadari itu semua. Dan kini aku sadar, kumenyesal. Namun
percuma. Semuanya terlambat. Diri ini terlanjur kotor, sudah banyak bercak
hitam di hati.
Terima
kasih telah menghadirkan sosoknya kepadaku, Rabb! Lewat dia, aku tahu bagaimana
rasanya suka, juga sakit. Namun, kebahagiaan yang selama ini terasa, kini
semuanya mengalir jauh, terseret rasa sakit yang sangat.
Kini
aku sendiri, bimbang, gelisah dan hina. Hatiku jauh dari kata tenang. sungguh,
syetan telah menguasainya. Bahkan saat niatku untuk mengakhiri perbuatan maksiatku
selama ini, dia yang menjadi patner atau pasangan maksiatku justru menolak.
Ingin semuanya tetap berlanjut.
Kejam
sekali dia! Membiarkanku dilanda kegundahan hati yang menggebu. Akhirnya,
kuberikan sebuah buku bersampul biru yang telah membuka mata hatiku, yang
kudapatkan dari … ah, aku tak sanggup menuliskan namanya, dia bahkan meludah.
Dia mengancam! Ya, dia mengancam akan menghabisi sosok yang memberikan buku itu
padaku. Meski aku tak memberi tahu siapa sosok itu, namun dia tetap berusaha
untuk menemukannya. Padahal selama ini mereka berteman baik.
Wahai
Dzat Maha Cinta, sungguh selama ini aku sangat bodoh. Kini kurasakan akibat
buruk dari perbuatanku itu. Bahkan bapak juga sudah sangat mewanti-wanti agar
aku menjauhi perbuatan itu. Namun aku tak menanggapinya, hingga aku tak bisa
lagi bercakap ringan, tertawa gelak atau sekadar bercerita hanya berdua
dengannya.
Kuakui
aku ini sangatlah bodoh. Bahkan dengan berlaga sok-sokan aku menjalin hubungan
yang tak pernah dicontohkan Nabi-Mu. Kukatakan padanya, bahwa aku mencintainya.
Sampai-sampai aku terlalaikan dan melupakan-Mu.
Sekarang
aku tak tahu harus bagaimana. Aku jadi ragu untuk menjalani hidup. Bantulah
hamba-Mu yang hina ini, Rabb! Meski sebenarnya hamba malu, namun hamba tahu
tiada tempat meminta yang lain selain pada-Mu.
***
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan
suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra`: 32)
Komentar
Posting Komentar