Cerpen: ALDI WARTIJOYO
Penampilannya urakan, kontras sekali. Berbeda dengan orang lain yang memakai pakaian rapi, bersih dan wangi, keberadaan Dodi pun menjadi pusat perhatian. Terlebih seorang anak polos memakai baju koko duduh di sebelahnya, tampak tenang sedang mengulang hafalan Al Quran. Kentara sekali, cowok itu serius memerhatikan si anak.
Selepas shalat zuhur berjamaah, masjid ini kembali lengang. Hanya beberapa orang yang masih enggan beranjak; ada yang berzikir di pojokan, membaca buku atau Al Quran, ada juga yang merebahkan tubuh sekadar menikmati sejuknya udara. Pokus Dodi masih pada anak itu. Melihatnya, dia teringat dirinya di masa lalu, saat seumuran anak ini.
“Abang hafal surat Al Qar`iah?”
Dodi sedikit teperanjat mendapat tanya itu. Lantas dia mengangguk pelan, tidak yakin. Dulu dia hafal surat itu bahkan dengan terjemahnya. Tapi sekarang? Setelah perbuatan-perbuatan kotor yang dilakukannya, setelah kehilangan kesempatan—lebih tepatnya menghilangkan dari kebiasaan—beribadah pada-Nya, Dodi jadi tidak yakin apakah memorinya masih menyimpan surat itu atau tidak.
“Kalau begitu, tolong benarkan bacaanku kalau ada yang salah, ya, Bang!”
Anak itu begitu antusias. Menatap lekat bola matanya yang bulat, Dodi dibawa pada waktu kali pertama mereka bertemu. Saat anak beralis tipis itu hampir saja tertabrak kendaraan roda empat di persimpangan. Setelah dengan gerakan cepat dia mengambil anak itu, lantas mendudukannya di pinggir jalan jalan. Anak itu hampir kehilangan kesadaran, terlalu shok.
Melihat keadaan anak itu, entah kenapa perasaan Dodi berbeda. Semisal ada ketenangan, rasa semacam magnet yang selalu menariknya ke masa lalu, saat masih seumuran anak ini.
Sebenarnya ini adalah kesempatan baik untuk pekerjaannya—lebih tepatnya bukan pekerjaan, sebenarnya. Menculik, bisakah disebut sebuah pekerjaan? Ya, keadaan begini seharusnya menjadi kesempatan, nampaknya anak ini juga hidup dari keluarga yang berada. Namun, sekali lagi berada di dekat anak itu semacam ada perasaan melankolis di hati Dodi. Yang membuatnya enggan menjalankan aksi.
Bukan aksi yang dijalankannya, setelah kejadian itu Dodi justru mendekati anak itu. Hingga saat ini, mereka bahkan sudah sangat akrab. Dan ada sesuatu dari anak ini yang sebenarnya bisa jadi alasan membawanya kepada masa lalu, bukan lagi saat dia seumurannya tapi saat dia beranjak dewasa, kejadian yang menjadi kenangan buruk bagi pelakunya. Ya, nama anak itu selalu mengingatkannya pada masa lalu.
“Namaku Aldi Wartijoyo.”
***
“Hebat lo, Dod,” ujar salah satu anggota penculik. “Mencari mangsa sampai ke masjid pula.”
Dodi tak menggubrisnya. Dia harus bisa menutupinya, mereka tidak boleh tahu kalau sebenarnya Dodi tidak pernah berniat menculik Aldi.
“Bagaimana aksimu, Dod? Di mana anak itu?” tanya anggota penculik yang lain.
“Aku gagal.”
Cukup berat sebelum akhirnya Dodi benar-benar mengeluarkan dua kata itu.
“Apa?” sontak semua kaget. “Kenapa bisa gagal? Biasanya lo selalu sukses dengan aksi-aksi lo, terlebih saat gue lihat lo di masjid tadi begitu dekat dengan anak itu, bukan hal sulit melakukannya.”
Dodi menghela napas berat.
“Belum beruntung.” Lagi-lagi Dodi menanggapinya singkat.
Akan bahaya bagi dirinya jika sampai jujur. Dia sudah telanjur bergabung dengan ikatan penculik ini, konsekuensinya sangat berisiko. Bisa saja dia tiba-tiba dikurung oleh anggota ikatan penculik ini, atau bahkan nyawanya tidak akan selamat. Konsekuensi ini sudah dia pikirkan sejak sebelum benar-benar ikut bergabung. Sungguh, kalau bukan karena keadaan mendesak saat itu, pantang bagi Dodi untuk bergabung dengan kumpulan yang tak ada dalam kamus hidupnya sebelumnya.
Dulu hidup Dodi bisa dikatakan alim. Hidup dengan keluarga yang agamis. Namun, pergaulan telah mengubah Dodi menjadi sosok yang lepas. Tidak lagi mengikuti aturan-aturan. Dan bahkan, akibat keseringan bergaul dengan orang-orang tak beres, dia pun berani merenggut harga diri seorang wanita, mencabut mutiara dalam tubuhnya. Ya, dia telah menodai kesucian anak gadis keluarga Wartijoyo.
Pihak keluarga Wartijoyo yang datang ke rumah Dodi dengan dentuman emosi penuh nafsu, menuntut pertanggung jawaban, meminta mengembalikan keadaan seperti semula—yang sangat tidak mungkin terjadi—membuat keluarga Dodi malu, nama baik mereka tercoreng. Lantas murka pada Dodi, mengusirnya dan tidak lagi diakui sebagai anggota keluarga.
Karena itulah, Dodi hidup luntang-lantung tak jelas tujuan. Sampai akhirnya dia sampai pada titik di mana dia menyerahkan seluruh hidupnya, berani menanggung risiko yang sekalipun mengancam keselamatan nyawanya, bergabung dengan ikatan penculik.
***
Seperti biasa, pada waktu shalat zuhur Dodi menunggu kedatangan Aldi di masjid. Kehadiran Aldi dalam hidupnya telah mengalihkan sebagian aktifitasnya. Menyusun strategi untuk menculik tidak lagi terlalu menarik. Walaupun sebenarnya dia hanya duduk, memerhatikan Aldi yang mengulang hafalannya. Akan tetapi pemandangan seperti itu—sekarang—justru terlihat sangat menarik bagi Dodi.
“Abang kerja di mana?” tiba-tiba saja Aldi melontarkan tanya, membuat Dodi gelagapan.
“Eeung ... abang enggak kerja.”
“Abang belum punya anak, ya?” saat bertanya, kepolosannya begitu kentara.
Dodi menggeleng. “Menikah saja belum, bagaimana mau punya anak?”
Aldi terkekeh.
“Sekarang kamu mau ngafalin surat apa?” Dodi mengalihkan topik.
“Surat Al-`Adiyat.”
“Sudah bisa?”
Aldi mengangguk mantap. “Abang dengerin, ya. Kalau ada yang salah tolong benarkan.”
Dodi mengangguk saja. Walau sebenarnya—meskipun ada yang salah—dia akan diam saja, hanya memerhatikan wajahnya yang polos, masih suci, melantunkan ayat suci yang kini cukup asing dari hidup Dodi.
Di saat sedang memerhatikan Aldi, seseorang menepuk pundak Dodi. Menoleh, lantas terperanjat kaget. Namun, setelah sadar sosok yang menepuk pundak Dodi segera menguasai keadaan, bersikap senormal mungkin.
“Bagaimana? Gue bantu lo ngelancarin aksi, ya!” kata anggota penculik yang tiba-tiba muncul itu, berbisik di telinga Dodi.
Dodi meminta izin pada Aldi, lantas mengajak teman penculiknya itu berbicara di tempat agak jauh dari Aldi. “Euhh ... euhh ... nggak usah lah, gue bisa sendiri ko. Thank’s lo udah mau bantuin gue.”
“Udahlah nggak usah banyak alasan, gue lihat orang tua anak ini pasti orang kaya, banyak duit ... kesempatan emas nggak boleh ditunda lama-lama.”
Lantas teman penculiknya itu beranjak mendekati Aldi. Setelah itu Dodi melihat temannya mengajak Aldi beranjak, anak itu tidak keberatan untuk ikut. Dodi berusaha keras mencari alasan agar bisa menghentikan aksi temannya.
Dodi mengikuti mereka, sampai ketika mereka belum terlalu jauh dari kawasan masjid, dia berteriak. “Tungguu!!”
Aldi dan penculik itu menjeda langkah, menoleh. Lantas segera Dodi menghampiri.
“Aldi, ayo ikut abang!” Dodi meraih tangan Aldi dari teman penculiknya.
“Eh lo mau ngapain?” teman penculiknya heran.
“Maaf, Bro, gue nggak bisa ngejalanin aksi gue pada anak ini.” Ungkap Dodi dengan nada agak ragu.
“Apa? Kenapa?”
“Gue nggak bisa aja, anak ini udah gue anggap sebagai anak gue sendiri.”
“Lo sudah gila, Dod? Apa mau gue laporin lo ke Bos?” temannya itu terlihat mulai emosi.
“Silakan saja,” lantas Dodi segera berbalik, membawa Aldi yang di wajahnya kini mulai terlihat rasa takut.
“Sialann!!”
Tubuh Dodi didorong sampai tersungkur. Lantas segera mengambil Aldi dan membawanya lari. Merasa tidak suka, Dodi segera bangkit dan mengejar temannya. Menendang punggung preman itu, dan Aldi jatuh terpental. Dodi tak memberi jeda pada temannya itu. Dia memburunya dengan pukulan dan tendangan penuh nafsu.
“Sanaa lo laporin!! Gue udah nggak peduli.”
Temannya itu terlihat kehilangan nyali, mendapati Dodi yang kian beringas. Namun, tetap ada usaha perlawanan yang ditampakkan.
Pertarungan kian sengit. Sudut mata Dodi menangkap Aldi duduk ketakutan di pinggir, bercak darah menghiasi bagian di atas kedua alisnya. Semakin semangat dia menghabisi teman penculiknya itu.
Setelah merasa tak mampu lagi melawan, penculik itu lari terbirit-birit meninggalkan Dodi yang masih disulut emosi.
Setelah sadar, Dodi segera menghambur Aldi. Memeluknya, mengusap darah di kening anak itu dengan baju yang dikenakannya. Hanya luka kecil. Dodi sedikit lega.
“Kamu tidak apa-apa?” Dodi melihat gurat ketakutan di wajah Aldi.
“Maafkan abang!”
Aldi menggeleng. Dodi pun memeluknya semakin erat, ada ketenangan yang menjalar tubuh saat pelukan itu berlangsung. Pun ketika tangan Aldi terasa mengeratkan pelukannya.
“Sekali lagi, maafkan Abang.” Aldi tak menanggapinya, “Abang akan antar kamu pulang.”
Dodi menggendong tubuh kecil Aldi di punggungnya. Berjalan tergesa agar luka Aldi segera diobati orang tuanya.
Sebelum ke rumah Aldi, Dodi menyempatkan ke masjid. Pergi ke toilet demi membersihkan tubuh terlebih dahulu.
“Kamu serius nggak apa-apa? Selain luka ini apa ada luka yang lain?” tanya Dodi setelah kembali dari kamar mandi.
“Alhamdulillah, tidak, Bang!”
“Syukurlah.”
Dodi tidak langsung mengajak Aldi pulang. Kali ini dia membiarkan tubuhnya istirahat dulu, sambil menatap wajah Aldi yang kini mulai terlihat tenang.
“Aldi!” suara seorang perempuan menyadarkan Dodi. Aldi melihat perempuan itu, yang berada di belakang Dodi.
“Ibu!!” Aldi segera menghamburnya.
Dodi berbalik, melihat mereka berpelukan.
“Ini kenapa bisa luka? Kamu sudah di mana, kenapa pulang terlambat?” ibunya terlihat begitu perhatian.
“Maafkan saya!” Dodi bersuara.
Perempuan berkerudung itu mendongakkan kepala, mata mereka beradu pandang. Ada kekagetan tampak, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya. Setelah sadar, perempuan itu segera berbalik, membawa anaknya. Dodi sempat mendengar percakapan antara Aldi dan ibunya sebelum mereka benar-benar jauh meninggalkannya.
“Jangan lagi bertemu orang itu, dia jahat!”
Dodi terperanjat. Dia menduga-duga berbagai kemungkinan. Tentang Aldi? Apakah dia ....
Ah, entahlah. Yang jelas tentu saja perempuan itu tidak akan mengizinkan anaknya bertemu dengan Dodi. Tentu karena perempuan itu adalah anak gadis keluarga Wartijoyo yang dulu telah dia renggut kesuciannya.[]
Komentar
Posting Komentar