Cerpen: TAUBAT DI PINTU NERAKA

Cerpen oleh: Muhsid
(Sumber: Google)


Prilaku dan tingkahnya yang menggelikan orang sekitar adalah tabiatnya sejak lahir. Namanya sudah tersebar di seluruh penjuru desa, bahkan sampai ke kota, Aditia Al Fahis. Ya, itu namanya.
Sebagai anak semata wayang, Fahis amat dimanja oleh kedua orangtuanya. Terutama oleh ibunya. Padahal Fahis sudah dewasa, tapi tetap saja kasih sayang orangtua terkesan pilih kasih, lebih condong hanya untuk Fahis seorang.
“Fahis! Fahis!” suara ibu memanggil dari arah dapur.
“Ya ampuun, ada apa sih, Bu?” gerutu Fahis pelan.
“Fahis! Fahis!” suara nyaring ibu terulang.
“Iya, iya sebentar!” Fahis menyahut dengan nada kesal. “Ada apa sih?”
“His, bantuibu bikin makanan untuk malam ini, ya? Ibu mau pergi pengajian,” pinta ibu agak mendesak.
“Duh, maaf banget, Bu. Fahis nggak bisa. Soalnya malam ini Fahis ada janji sama teman-teman untuk makan di luar,” jelas Fahis.
“Memangnya nggak bisa besok aja, His? Malam sudah mulai larut,” ujar ibu.
“Nggak bisa, Bu!” Fahis menolak. “Ah, sudahlah. Fahis mandi dulu, nanti telat.”
“Astagfirulloh!” ibu geleng-geleng kepala.
Untuk hari ini sepertinya ibu harus mengalah. Ya, mengalah atas kehendak Fahis untuk pergi ke luar dengan teman-temannya.
***
Tempat yang sederhana, tetapi sangat ramai pengunjung yang berlomba-lomba di dalamnya, terutama dari golongan anak muda. Ya, di sinilah Fahis dan teman-temannya party.
Fahis terlihat lebih keren dengan kostum yang dia kenakan, ketimbang baju yang dia pakai dari rumah. Dia pun sibuk merias dirinya secantik mungkin, sebagaimana seorang wanita.
Pengunjung terlihat begitu asyik dan benar-benar menikmati suasana yang penuh dengan aroma kemaksiatan tersebut.  Mereka saling gembira berjoget bersama-sama, sambil mengonsumsi barang-barang terlarang.
“Silakan ... silakan ... boleh!”
Fahis terlihat seperti sedang menawarkan suatu barang yang ia obral di tengah keramaian tersebut. Tiba-tiba datang seorang anak muda yang tergiur dengan tawarannya.
***
Malam semakin larut. Ibu semakin gelisah, khawatir bercampur kesal menunggu Fahis yang belum juga pulang. Kepalanya terasa seakan pecah, matanya perih, apalagi dengan kakinya yang membengkak dan pegal kesakitan.
“Ya Allah, lindungilah anakku!” rintihnya seiring air suci yang jatuh di sudut matanya.
Lama semakin lama, hatinya seakan digoncang sejuta pilu. sehingga ia benar-benar memutuskan untuk mencari dan menjemput Fahis pulang, meski dia tidak tahu di mana keberadaan mereka.
***
Pemuda yang tergiur dengan tawaran Fahis tiba-tiba membawanya ke suatu tempat yang tak pernah dikenal sebelumnya. Dan anehnya mereka terlihat sangat akrab sekali. Padahal mereka baru saja berkenalan, tapi terlihat wajar saja karena lelaki itu memang mudah bergaul dengan siapa saja.
Lalu apa maksudnya pemuda itu membawa Fahis yang berdandan seperti wanita? Apa karena itu efek dari barang-barang yang terlarang itu, sehingga ia tidak sadar bahwa Fahis adalah lelaki yang menyamar menjadi wanita agar jualannya mudah laku.
***
Jauh sudah sang ibu berkeliling mencari-cari anak semata wayangnya, dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Bahkan dia hampir saja putus asa dari benang kasihnya.
Sejenak ia berhenti untuk merebahkan badannya terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Tubuhnya amat hampa tak berdaya. Tidak ada sedikit pun air yang dapat mengobati keringnya tenggorokan, kecuali keringat yang meleleh di keningnya.
Setelah beberapa saat kemudian, ia pun melanjutkan perjalanan.
***
Oh, tidak! Sungguh itu adalah perbuatan keji.
Ternyata barang yang selama ini Fahis tawarkan adalah dirinya sendiri.
Ihhh ngeri.
Kemudian Fahis pulang membawa uang haram yang banyak, dan segera menelpon rekannya untuk menjemput.
“His, gimana hasilnya? Memuaskan?” tanya Fadli, rekan bisnisnya.
“Ya, jelas!” jawab Fahis singkat sambil masuk ke dalam mobil. Lalu segera mengganti kostumnya kepada Fahis yang semula.
“Aaaaaaa...!!!” teriak Fadli sejadi-jadinya, ternyata dia nabrak orang.
Fahis marah-marah pada Fadli, karena dianggap tidak bisa mengendarai mobilnya dengan baik.
“Lo udah gila, ya, masih untung gue masih hidup!” bentak Fahis penuh emosi.
Fadli shok.
“Udah, buruan kita kabur. Tunggu apa lagi?” Fahis mendesak.
***
Waktu menunjukkan pukul 02.15 tepat saat Fahis tiba di rumahnya. Dia segan untuk masuk ke rumahnya dan berjalan seperti perampok. Dia mengambil napas dalam-dalam saat membuka pintu rumah, ternyata pintunya tidak dikunci. Tentu saja ini kesempatan untuk dia segera masuk agar tidak dimarahi ibu. Dia pun masuk ke kamarnya dengan waswas.
“Huh, selamat!”
Tiba-tiba ponsel Fahis berbunyi. Tanda panggilan masuk dari Fadli.
“Halo, ada apa sih?” kata Fahis setengah berbisik.
Fahis tak mendengar balasan apa pun dari Fadli, hanya terdengar suara isak tangisan.
“His, bantu gue! Gue ada di kantor polisi.”
“Halah, nggak usah bohong! Itu alasan lo aja ‘kan?”
“Gue serius! Ini soal kecelakaan tadi.”
Fahis tak menjawab, lantas mematikan ponselnya, dan terbaring pulas di atas kasur.[]

Komentar